Semester Lima, Mari Kita Ke Jogja

Masih di tahun 2016, yang menjadi pembeda hanya semesternya. Semester lima.

Kembali lagi berkutat dengan Studio. Bukan menjadi mata kuliah paling favorit, hanya saja jumlah SKS-nya yang terbilang banyak sampai mampu mengintimidasi mata kuliah lain, membuatnya menjadi mata kuliah yang harus diprioritaskan.

Kali ini, studio yang akan kami hadapi adalah Studio Perencanaan Transportasi (SPT) dan Urban Design Studio (UDS). Terdengar agak aneh? Apakah ini artinya kami akan melalui 2 studio dalam satu semester?

Jawabannya adalah: tidak. Di semester 5 ini berbeda karena kami wajib memlilih antara 2 konsentrasi yaitu Transportasi atau Urban Design (Perancangan Kota). Bagi mereka-mereka yang memiliki minat di bidang transportasi dapat memilih Studio Perencanaan Transportasi. Sedangkan mereka yang berminat kepada urban design bisa memilih Urban Design Studio.

Daerah yang beruntung kami kunjungi untuk melakukan survei adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanpa perlu arahan dari siapapun sudah terbayang agenda jalan-jalan seperti apa yang akan kami susun bahkan sebelum survei tersebut dimulai.

Jauh di dalam keinginan saya, sesungguhnya saya berniat mengambil konsentrasi Urban Design. Karena terbayang serunya membuat desain 3D menggunakan aplikasi Sketchup. Namun di sisi lain saya merasa bahwa transportasi adalah masalah yang sulit diurai seperti benang kusut, tidak hanya di kota-kota besar di Indonesia. Iya, macet. Di mana-mana.

Urusan memilih konsentrasi studio cukup membuat saya mengalami pergolakan batin. Hingga kemudian setelah menimbang-nimbang cukup lama, ditambah arahan dari orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk memilih bidang transportasi.

Studio Perencanaan Transportasi terbagi menjadi 5 kelompok yang didasari oleh jenis-jenis moda transportasi yang ada atau setidaknya pernah ada di Jogja, yaitu Sepeda, Pejalan Kaki (Pedestrian), Trem, Becak & Andong, dan Bis. Lalu ada satu kelompok khusus bernama Tim Integrasi yang beranggotakan perwakilan terbaik masing-masing kelompok moda transportasi.

Pembagian kelompok SPT dilakukan oleh koordinator studio beserta jajarannya dengan melihat kelebihan dan kekurangan dari setiap individu. Tidak lupa juga mempertimbangkan faktor chemistry antar teman agar nantinya tiap-tiap kelompok bisa mengarungi studio dengan minim permasalahan. Singkatnya, di tahap ini aspek politik cukup diperhitungkan. Tak lama hasil pembagian pun keluar dan saya masuk di dalam kelompok moda transportasi umum Trem.

Yang namanya keputusan yang melibatkan manusia-manusia lain, pasti akan ada pihak-pihak yang tidak sepakat hingga keberatan dengan hasilnya. Meski begitu, keputusan tetaplah keputusan, tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak. Pada akhirnya, setelah diskusi panjang nan alot, pihak-pihak yang tak setuju mulai bisa menyepakati hasil yang ada. Setidaknya tampak begitu di atas kertas.

Output atau produk akhir yang dihasilkan dari SPT berupa Masterplan Transportasi yang mana pekerjaan ini masih sedikit beririsan dengan Teknik Sipil yang berkonsentrasi di bidang transportasi.

Sementara cukup untuk SPT. Berikutnya akan saya jelaskan untuk UDS. Berhubung saya memilih studio yang satunya, maka kemungkinan informasi yang saya jabarkan lebih terbatas.

Studio Perancangan Kota, atau lebih dikenal dengan istilah Urban Design Studio (UDS) di lingkungan kami dibagi menjadi 5 atau 6 kelompok, saya kurang tahu pasti. Yang saya tahu, ada kelompok yang mendapat bagian untuk menata suatu kawasan wisata tertentu, sedangkan setengah kelompok sisanya merencanakan penataan koridor-koridor jalan yang ramai dilalui oleh wisatawan.

Penataan kawasan atau koridor tersebut nanitnya akan menghasilkan suatu dokumen perencanaan bernama RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan). RTBL sendiri dapat pula dikerjakan oleh orang-orang yang berasal dari lulusan arsitektur karena sangat erat kaitannya dengan urusan desain-mendesain suatu fasad bangunan.

Segala urusan yang berkaitan dengan pembagian kelompok pun usai. Saatnya studio dimulai.

Seperti yang semua telah ketahui, tahap awal merupakan tahap Laporan Pendahuluan. Namun alangkah baiknya jika saya percepat saja karena tahap ini berjalan lancar seperti biasanya. Ditambah saya juga tidak ikut serta dalam Survei Pendahuluan sehingga saya rasa tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan menurut sudut pandang saya.

Tahap Laporan Pendahuluan memakan waktu kurang lebih 2 minggu. Selesainya tahap Lapdal pertanda hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, yakni Survei Besar. Kami berangkat menggunakan 3 Bis. Sementara untuk transportasi selama 1 minggu kami disana, kami memutuskan untuk menyewa sepeda motor di lokasi. Tidak lagi mengangkut motor menggunakan truk seperti survei di semester sebelumnya.

Karena berangkat malam, kami sampai di Jogja, tepatnya di BLK-PAY (Balai Latihan Keterampilan Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah) saat matahari baru memulai gilirannya untuk menyinari bumi bagian wilayah Indonesia. Lokasi BLK ini ada di Jl. H. Agus Salim dekat dengan Taman Parkir Ngabean. Segera saja kami turun untuk meregangkan anggota tubuh yang harus menekuk selama 6 hingga 7 jam perjalanan dari Malang menuju Jogja.

Tanpa berlama-lama kami sudah menurunkan barang bawaan kami. Para pria menempati gedung bagian barat, sementara para wanita ada di gedung sebelah timur. Gedung kami para pria menginap terbagi menjadi kamar-kamar berukuran kecil sampai sedang, ditambah satu ruangan besar seperti aula yang telah disediakan kasur-kasur kecil untuk tidur. Beberapa dari kami ada yang memilih kamar dan sebagian lainnnya memilih tidur di aula, termasuk saya.

Rupanya kami berbenah sekaligus mengistirahatkan diri cukup lama. Kami pun bergegas untuk berangkat menuju tempat penyewaan motor karena langit sore tampak tidak lagi mengizinkan matahari menyinari Jogja dengan cahayanya. Benar saja, sesampainya di tujuan, hujan pun turun. Dengan semangat perjuangan kami berusaha untuk tidak menghiraukan air yang tumpah membasahi jalanan Jogja. Motor-motor dinyalakan dan satu persatu dari kami mulai menaiki motor secara bergiliran. Ini semua demi kelancaran survei yang akan dimulai esok harinya.

Seperti yang sudah-sudah, apalah itu survei tanpa jalan-jalan. Terlebih ini Kota Wisata Jogja yang begitu tersohor. Hari pertama tentu kami melakukan survei secara teliti dengan tujuan agar hari berikutnya kami bisa lebih santai dan semakin dekat dengan rencana jalan-jalan. Sebenarnya tanpa harus diagendakan pun, survei di Jogja malah lebih terasa atmosfer berwisatanya. Boleh dibilang kami sedang jalan-jalan sambil melakukan survei, bukan sebaliknya.

Menikmati Jalan Malioboro yang sedang direnovasi
Mengisi form observasi dan kuesioner
Interview dan berbincang dengan pedagang lokal
Jalan Malioboro yang ramai
Foto dengan salah dua responden
Survei sampai kehujanan pun kami jabanin

Siangnya kami survei, malamnya kami main.

Titik Nol Jogja
Saya lupa ini di alun-alun yang mana
Main mobil-mobilan

Terdapat perbedaaan rundown survei antara SPT dan UDS. Kami anak transportasi memulai survei pukul 9 pagi, survei hingga mentari tepat diatas kepala, lalu tidak perlu menghabiskan waktu hingga sore kami sudah kembali ke penginapan. Bersih-bersih badan sebentar lalu mengakhiri hari dengan jalan kesana kemari.

Rundown survei tersebut sangat tidak berlaku untuk anak Urban Design. Mereka harus survei bahkan sebelum matahari terbit untuk mengambil foto montase. Sejujurnya saya sendiri juga tidak terlalu paham, namun begitu kira-kira istilahnya. Selain itu observasi yang dilakukan baik di kawasan ataupun di koridor dilakukan dengan sangat detail dan mendalam.

Survei SPT bisa demikian santai, karena data-data yang diperlukan sebagian besar sudah terpenuhi oleh data-data sekunder hasil dari Survei Pendahuluan sebelumnya. Untuk data-data sekunder yang masih kurang saat Survei Pendahuluan, ditindaklanjuti oleh kelompok super yaitu Tim Integrasi. Sementara dalam mencari data-data primer kami cukup mencari responden untuk mengisi kuesioner, interview terkait moda trem dan sedikit observasi di lokasi. Apalagi moda trem adalah moda lawas yang beroperasi tahun ’70an dan kini hanya tersisa jejak-jejak kejayaannya seperti bekas rel yang melintang di beberapa ruas jalan.

Data-data yang kami perlukan sudah ditangan, saatnya menghabiskan sisa hari untuk berlibur datang. Beberapa dari kami ada yang ke Borobudur, Prambanan, dan bermacam-macam destinasi wisata lain di sekitar Jogja. Kelompok saya memutuskan untuk pergi ke Gumuk Pasir Parangkusumo dilanjut ke Hutan Pinus Imogiri di mana teman-teman yang lain sudah berada duluan disana.

Karena musim hujan jadi pasirnya kurang sip
Kiri ke kanan. (Atas) Zhuniart, Vicky, Oktarina, Ditha. (Bawah) Saya, Trias, Abid
Hutan Pinus yang adem
Kiri ke kanan. (Atas) Saya, Trias, Abid. (Bawah) Vicky, Oktarina, Zhuniart, Ditha
Foto ala-ala dulu

Sisa hari di Jogja berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa kita harus kembali ke Malang dimana bayang-bayang tahap DA dan Rencana telah menanti.

Foto Seangkatan di Garasi
Hanya para pria di aula

Tahap Data dan Analisa dapat dilalui dengan cukup lancar. Namun masalah pertama muncul ketika Tahap Rencana dimulai. Karena Trem adalah moda transportasi umum jaman dahuku kala, maka cukup kebingungan kami dibuatnya. Kalau kelompok moda lain dapat membuat perencanaan berupa penataan dan pembenahan moda dan fasilitas pendukungnya agar lebih baik sesuai dengan tingkat kepuasaan responden, kami tidak dapat melakukan hal itu. Apa yang hendak dibenahi kalau wujudnya saja tidak ada? Itu artinya kami dituntut untuk merencanakan moda trem dari awal bukan?

Sekilas memang terlihat mengasyikan karena tidak dibatasi oleh kondisi eksisting, namun ternyata untuk merencanakan rutenya saja, amat banyak hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Berkali-kali sesi asistensi dengan dosen sekaligus brainstorming dilalui dengan serius. Akhirnya ditentukan beberapa rute alternatif seperti pada peta dibawah.

Peta Rute Alternatif 1
Peta Rute Alternatif 2

Masalah yang kedua, kami seolah mendapat mindset bahwa anak SPT tidak perlu membuat desain 3D seperti  halnya teman-teman di UDS. Kenyataannya anak SPT pun harus menyajikan desain 3D dari Masterplan Transportasinya. Jika ditelaah lagi, sebenarnya ini adalah hal yang masuk akal karena produk yang kami hasilkan adalah sebuah dokumen masterplan tentu kami dituntut untuk menyediakan perencanaan yang lengkap dalam berbagai bentuk. Akan tetapi, karena kesalahan mindset diawal, kami agak kalang kabut dalam mengantisipasinya.

Kemudian kami berembug cukup lama sampai akhirnya diputuskan untuk memakai jasa studio seorang lulusan arsitektur yang memiliki spesialisasi 3D menggunakan uang iuran bersama. Rencananya adalah masing-masing kelompok membuat desain modanya sendiri menggunakan Sketchup laku dikirim ke jasa studio tersebut untuk digabungkan dan diintegrasikan menggunakan Lumion.

Desain stasiun
Desain halte
Detail Desain Trem Punakawan

Singkat cerita, setelah berbagai masalah yang menghampiri dalam proses perencanaan, presentasi dalam dilalui dengan baik.

Setelah studio selesai dirayakan dengan foto studio

Walaupun surveinya terkesan santai, terutama untuk anak SPT, khususnya kelompok moda Trem, tetapi dalam proses penyusunannya saya mendapatkan suatu hal selain ilmu. Yakni pembelajaran bahwa pertama, membenahi dan membuat dari awal sama-sama memiliki kesulitannya masing-masing. Kedua mindset yang salah di awal akan berakibat fatal di kemudian hari.

Sekian untuk tulisan studio kali ini. Terima kasih telah membaca!

Silakan Share Kalau Suka!

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin

Leave a Comment