Semester Enam, Dari Pantai Hingga Bukit Yang Curam

Tahun 2017. Tahun yang baru, semester yang baru, studio baru yang menjadi akhir dari perjalanan studio kami selama masa berkuliah di Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya, yaitu Studio Perencanaan Wilayah (SPW).

Semester ini, kami mencoba melangkah lebih jauh. Bila sebelumnya hanya berkutat di seputar Pulau Jawa, lokasi studio kami kali ini mewajibkan kami untuk menyeberangi beberapa selat untuk sampai di Pulau Lombok. Excited adalah kata yang tepat. Usai Kota Wisata Jogja, giliran Pulau Eksotis Lombok yang menjadi tempat kami untuk survei. Saking senangnya, saya sampai sengaja membeli kemeja bermotif bunga agar lebih dapat menikmati suasana Lombok.

Wilayah survei kami dibagi menjadi 4 kabupaten yaitu Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Timur. Masing-masing kabupaten terbagi lagi menjadi 4 sektor yang meliputi Pariwisata, Agropolitan, Minapolitan, dan Industri. Melalui pembagian kelompok yang dilakukan oleh Koordinator Besar SPW, saya mendapat kelompok Sektor Industri Kabupaten Lombok Timur.

Dokumen perencanaan yang dihasilkan dari Studio Perencanaan Wilayah berupa Masterplan sesuai dengan sektor masing-masing. Misalnya kelompok saya, berarti kami menghasilkan Masterplan Industri Kabupaten Lombok Timur.

Tahapan-tahapan yang dilakukan masih sama. Survei Pendahuluan dilanjutkan dengan Penyusunan dan Presentasi Lapdal, kemudian Survei Besar, lalu Penyusunan dan Presentasi DA, diakhiri dengan Penyusunan dan Presentasi Rencana. Karena sama, maka untuk beberapa bagian akan saya coba percepat saja.

***

Dari Malang kami berangkat menggunakan bis menuju Bandara Juanda Surabaya yang langsung dilanjutkan dengan pesawat ke Pulau Lombok.

Berfoto di kampus sebelum berangkat. (Pemegang Tongkat Selfie: Hafil Egy)

Kira-kira menjelang malam kami sudah tiba di Bandara Zainuddin Abdul Madjid Lombok dengan kondisi hujan rintik-rintik menambah keinginan kami untuk segera beristirahat di penginapan. Dibantu oleh kerabat teman-teman kami yang asli Lombok, kami membawa barang-barang bawaan kami menuju penginapan masing-masing karena mobil sewaan tiap kelompok pasti tidak muat.

Hari pertama survei kami mencoba memetakan rencana yang harus dilakukan agar survei berjalan efektif dan efisien. Kami memutuskan untuk melakukan survei sekunder terlebih dahulu menuju instansi-instansi terkait. Data yang kami perlukan tentu saja seputar industri di Lombok Timur, data kependudukan, dan data-data berupa peta, baik peta persebaran industri maupun peta dasarnya saja. Beberapa data sekunder langsung kami peroleh hari itu juga. Sisanya kami harus menunggu satu-dua hari karena masih disposisi. Biasa, birokrasi.

Karena merasa tugas telah diselesaikan dengan baik, kami bingung apalagi yang harus dilakukan. Walaupun Pulau Lombok terdapat banyak pantai, pada akhirnya kami memutuskan pergi ke Mataram untuk mencari Mall.

Esok harinya kami masih harus berurusan dengan survei sekunder. Kami berangkat menuju beberapa instansi untuk menagih data yang telah dijanjikan hari sebelumnya. Setelah merasa cukup lengkap, kami bertolak menuju salah satu pantai untuk sekadar menyantap makanan sekaligus me-rekap data yang ada.

Rekap tipis-tipis

Beres dengan urusan survei sekunder, saatnya beralih ke survei primer. Survei primer yang kami lakukan berupa wawancara dengan para pemilik usaha industri dari skala besar sampai yang masih berskala home industry. Hal-hal yang kami tanyakan seputar produk, bahan baku, modal usaha, biaya produksi, jumlah pekerja, pengolahan limbah produksi, distribusi dan pemasaran hingga omset yang diperoleh.

Industri yang pertama kami kunjungi adalah Industri Kain Tenun.

Menyimak dengan seksama informasi dari Narasumber
Bentuk alat penenun tradisional
Bermain dengan benang
Pemilik usaha mendemonstrasikan alat penggulung
Wujud gumpalan benang
Untuk dibawa pulang

Hari masih siang, matahari masih dalam kondisi prima, segera saja kami melanjutkan perjalanan ke Industri Gerabah

Foto bareng selalu diutamakan
Bersama sang Ibu yang baru selesai memperlihatkan proses membentuk gerabah dari gumpalan tanah liat. Karena masih lelah, sang Ibu memilih untuk tetap duduk. Jadi tidak usah berasumsi macam-macam
Berbagai macam bentuk
Hingga guci yang besar

Hari berikutnya  kami berangkat ke Industri Meubel.

Dijelaskan secara lengkap dari hulu ke hilir
Tumpukan bangku pesanan sekolah-sekolah
Malu menggunakan palu
Poles terus agar mulus
Terima kasih atas ilmunya

Berikutnya adalah industri makanan ringan.

Plang papan nama
Tanning dulu
Proses packing
Packingan siap jual
Untuk camilan di jalan

Terakhir adalah Industri Kerajinan Anyaman yang kami kunjungi di hari yang sama.

Berbagai jenis anyaman
Kalau belum jadi, bentuknya seperti ini
Bentuk keranjang yang telah selesai
Selain kerajinan anyaman ada pula cincin dari kayu rotan
Mendengarkan narasumber adalah salah satu kegiatan yang seru
Pemilik yang ramah

Selagi masih terang, kami bergegas menuju Geopark Rinjani. Naik turun melintasi lembah dan bukit yang curam merupakan medan yang harus kami lalui.

Walaupun hanya untuk berfoto di gapuranya saja

Survei primer kami lewati tanpa hambatan yang berarti. Bahkan saya cenderung menikmatinya karena yang dilakukan hanya pergi berkeliling kabupaten untuk bertanya-tanya tentang industri yang tentunya menambah wawasan.

Agenda selepas survei menjadi alasan kami berada di Lombok. Bersama dengan kelompok lain di Lombok Timur, kami berencana untuk melakukan Boat Trip mengunjungi pulau-pulau kecil tidak berpenghuni yakni Gili Kondo, Gili Bidara, dan Gili Kapal yang sudah satu paket dengan kegiatan snorkeling di sela-sela perjalanan antar pulau.

Sebelum berangkat makan Nasi Puyung dulu. Sejenis dengan Nasi Jinggo di Bali dan Nasi Kucing di angkringan Jogja
Depan Kantor Bupati Lombok Timur
Tidak terlalu mahal hitungannya
Kapal yang akan membawa kami berkeliling
Menggunakan 2 kapal karena peserta yang lumayan banyak

Sampai di pemberhentian pertama. Saya agak lupa nama pulaunya dan bagaimana urutan pulau yang kami datangi. Yang pasti pulau pertama hanya berupa timbulan pasir di tengah laut.

Kiri ke kanan. Mas Adan, Dewi, Poppy, Saya, Agnes, Jane, Ilma, dan Abid

Lalu dibawa agak menjauh dari pulau untuk snorkeling.

No pelampung, no problem. Kiri ke kanan, saya, Taufik, Rully, teman dari sektor Pariwisata Lombok Timur

Tujuan berikutnya adalah pulau tak berpenghuni yang agak besar.

Kiri ke kanan. Shodiq, Mas Adan, Ibang, Saya, Abid, Rully, Taufik.
Sektor gabungan Lombok Timur. Sekeliling hanya hamparan pasir dan laut

Puas bermain di Gili tak berpenghuni, esoknya kami menuju Gili Trawangan yang terdapat di Lombok Barat. Rencananya kami bertemu di sana dengan teman-teman dari kabupaten lainnya.

Suasana di kapal penyeberangan Lombok-Gili Trawangan dengan warga lokal
Ramai-ramai

Saya sendiri sejujurnya lebih menyukai suasana Gili Kondo dan kawan-kawan yang sepi sehingga lebih leluasa.  Saya cukup terbiasa dengan pemandangan di Gili Trawangan karena mengingatkan saya pada suasana pinggir pantai di Bali yang dipenuhi cafe dan bule. Tapi mana yang lebih bagus, semua itu tergantung selera masing-masing.

Sampai pada hari terakhir kami liburan–maksud saya survei di Lombok. Kami memutuskan untuk menuju beberapa destinasi wisata sekaligus karena lusa kami sudah harus kembali ke Malang.

Yang pertama adalah Desa Sade, lebih tepatnya di Dusun Sasak. Desa ini adalah desa adat yang masih kuat mempertahankan tradisi Sasaknya. Menjadi keunikan tersendiri sehingga mampu menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di Lombok.

Pintu masuk Dusun Sasak

Di sini dijual berbagai macam pernak-pernik yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh yang diletakkan di tempat berupa kios namun dengan bentuk bangunan khas budaya Sasak.

Mulai dari kalung
Kain tenun beragam corak
Hingga berbagai macam kalung
Suasana sekitar dusun yang sangat terjaga keasliannya
Bersama calon Kepala Desa (atau Dusun)

Selesai berbelanja pernak-pernik, kami berpindah lokasi menuju Pantai Kuta untuk menikmati teriknya matahari Lombok di siang hari.

Walau terik namun pemandangannya melegakan hati
Lebih ramai

Bergeser sedikit, kami telah sampai di Bukit Merese. Tempatnya memang tidak terlalu jauh dari Pantai Kuta.

Di atas bukit, di bawah pantai

Makin lama, matahari mulai condong ke Barat. Tandanya hari mulai malam. Kami bergegas menuruni bukit, segera kembali ke penginapan masing-masing untuk merapikan barang-barang agar jangan sampai ada yang terlupa.

Pesawat mulai bergerak membawa kami kembali ke Surabaya. Meninggalkan momen-momen menyenangkan selama berada di Lombok. Suatu hal yang pastinya akan sulit sekali untuk terulang.

***

Menggunakan data-data hasil survei kami selama seminggu, kami melewati Presentasi DA dengan lancar.

Untuk menyajikan data-data tersebut kami biasa menggunakan Peta Persebaran.

Industri kerajinan
Industri Bangunan
Industri Sandang
Industri pangan

Presentasi Rencana adalah saat sebuah insiden terjadi. Insiden yang menyebabkan siapapun yang terlibat mendapatkan konsekuensi.

Entah mengapa pada saat Presentasi Rencana dimulai, mahasiswa yang hadir hanya para Koordinator tiap-tiap kelompok ditambah dengan beberapa anggota saja. Setelah ditelisik, rupanya karena kebanyakan dari kami ketiduran akibat begadang untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan pada saat presentasi terakhir ini–termasuk saya.

Peta Rencana Industri Lombok Timur

Untungnya presentasi tidak perlu diulangi namun konsekuensinya bagi yang tidak hadir, mau tidak mau harus membuat tiga infografis berdasarkan Masterplan sektor kami masing-masing. Selama tidak perlu mengulang, kami yang terlibat sangat menerimanya.

Sasaran pengembangan industri
Masalah-masalah terkait sektor industri
Persebaran Industri Lombok Timur lengkap dan jelas

Tak lupa mengucap syukur karena pada akhirnya semua berhasil diselesaikan dengan lancar.

Sekian perjalanan survei kami di Mata Kuliah Studio yang terakhir. Sungguh merupakan pengalaman yang berharga takkan mudah untuk terlupa.

Terima kasih telah membaca!

Silakan Share Kalau Suka!

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin

Leave a Comment