Semester Empat, Kesibukan Semakin Padat

Tahun 2016, semester 4.

Lagi-lagi saya dan tentu saja teman-teman angkatan saya harus berhadapan dengan mata kuliah dengan SKS paling banyak: Mata Kuliah Studio (5 SKS). Studio kali ini adalah Studio Perencanaan Kota yang berlokasi di 3 Kabupaten di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Magetan, Kabupaten Bojonegoro, dan Kabupaten Ngawi. Kalau di semester 1  kami merencanakan 1 RW, di semester 2  lingkupnya kelurahan, dan semester 3 kami harus merencanakan 1 desa, di semester 4 ini kami belajar untuk merencana 1 kecamatan. Kebetulan sekali saya tergabung di kelompok yang mendapatkan lokasi survei di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan.

Jika dipikir-pikir, sebenarnya tidak ada yang spesial dengan lokasi surveinya, Hanya 3 Kabupaten yang berada pada perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tapi kemudian saya mengetahui bahwa Kecamatan Maospati merupakan lokasi dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Iswahjudi sehingga setiap beberapa menit sekali terdengar suara jet pesawat tempur yang berlalu lalang di langit Maospati. Terkadang saya bisa melihat wujud pesawatnya, namun sering kali hanya suaranya saja yang tertangkap oleh telinga. Entah sedang melakukan latihan manuver atau hanya sedang berpatroli, yang pasti cukup mengesankan.

Produk akhir yang kami hasilkan di Studio Perencanaan Kota adalah RDTR atau Rencana Detail Tata Ruang. Buat para Planner profesional pasti sangat familiar karena dokumen perencanaan ini adalah salah satu dari banyaknya dokumen perencanaan yang akan sering kami kerjakan ketika sudah lulus dan menjadi Planner nantinya. Tidak semuanya tetapi kebanyakan seperti itu.

Oleh karena itu, secara tidak langsung kami belajar untuk menyusun RDTR dalam lingkup Kecamatan sebelum benar-benar mengerjakan RDTR dengan lingkup yang lebih luas dan komplek seperti kabupaten atau kota. Lebih lengkapnya tentang RDTR akan saya jelaskan di bagian pertengahan menuju akhir tulisan. Jadi pastikan tulisan ini dibaca sampai selesai, ya!

Agak berbeda dengan tahapan di studio-studio sebelumnya yang memiliki pola LHS (Laporan Hasil Survei) lalu FA (Fakta Analisa) dan Rencana, di semester 4 ini kami pertama kali diperkenalkan dengan tahapan studio yang baru yaitu Lapdal (Laporan Pendahuluan), DA (Data dan Analisa) kemudian diakhiri dengan Rencana. Sebenarnya tahapan ini adalah tahapan yang sesuai dan memang digunakan pada saat penyusunan RDTR atau dokumen perencanaan lain yang sesungguhnya.

Pada tahap Lapdal, kami diharuskan untuk melakukan yang namanya Survei Pendahuluan sebelum survei yang sebenarnya dengan full team satu angkatan dilakukan. Kami biasa menyebutnya Survei Besar. Survei Pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan data-data sekunder yang bisa diperoleh di instansi-instansi terkait. Sebagai contoh, karena wilayah survei kami dalam lingkup kecamatan, maka kami harus mendatangi Kantor Kabupaten lalu Kantor Kecamatan untuk meminta izin dengan cara menyerahkan surat izin survei yang telah kami urus di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi. Seringnya instansi seperti Kantor Kecamatan ketika dimintai data-data dasar kecamatan seperti data kependudukan dan peta wilayah, mereka akan mengarahkan langsung ke instansi yang memang spesifik mengurusi hal-hal tersebut seperti Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan untuk data-data kependudukan dan Dinas PUPR atau Bappeda untuk mendapatkan data-data peta wilayah sekaligus infrastruktur yang terbangun di kecamatan tersebut.

Timeline waktu yang mepet membuat kami harus segera merencanakan keberangkatan Survei Pendahuluan yang dilakukan di salah satu rumah kontrakan teman angkatan saya pada malam hari. Setelah rapat perencanaan dan diskusi segala macam, diputuskanlah bahwa yang berangkat hanya para pria. Tidak semuanya karena dibagi atau 3 mobil yang mempunyai jurusan yang berbeda-beda yaitu Magetan, Bojonegoro dan Ngawi. Meskipun jumlah pria di angkatan saya sedikit, namun tentu saja 3 mobil tidak akan cukup untuk menampung semuanya. Saya sendiri termasuk yang berangkat pada malam itu.

Siap berangkat

Diperjalanan kami berhenti sebentar di Monumen Simpang Lima Gumul yang terletak di Kediri. Kami berfoto sebentar lalu kembali melanjutkan perjalanan

Mirip seperti Monumen Arc de Triomphe

Selain survei sekunder, kami para pria juga diwajibkan untuk mencari tempat menginap selama melaksanakan Survei Besar yang akan memakan waktu kurang lebih satu minggu. Berarti saya harus mencari entah itu rumah kontrakan atau kos-kosan untuk saya dan kelompok saya menginap di Maospati.

Sempat saya menemukan rumah yang dikontrakan. Tampilan luarnya mencirikan rumah yang amat lama dengan gaya arsitektur Jawa. Tipikal rumah-rumah jaman dulu kalau saya boleh bilang. Sedikit bimbang namun saya coba saja untuk mencari tahu lebih jauh. Siapa tahu bagian dalamnya nyaman untuk ditempati.

Bagian luar
Bagian ruang tamu
Kamar tidur

Tenyata apa yang saya pikirkan lumayan meleset karena bagian dalamnya sama lamanya dengan tampilan luarnya. Mohon maaf tetapi menurut saya kurang nyaman dan kurang layak untuk ditempati meski hanya seminggu. Apabila bagian dalamnya direnovasi sehingga menjadi layak, pasti akan menjadi rumah yang unik dengan tampilannya yang klasik namun tetap menyediakan kenyamanan yang seharusnya.

Kendatipun begitu, iseng saja saya foto dan saya tawarkan kepada teman-teman kelompok saya. Respon yang sudah bisa ditebak, mereka semua menolak. Akhirnya saya kembali mencari dan untungnya menemukan rumah kos dibelakang terminal Maospati yang tentu saja kondisinya lebih layak huni. Rumah kos ini dimiliki oleh om teman angkatan saya yang bagaimana ceritanya malah tidak mendapat lokasi survei di Maospati.

Jauh lebih layak huni

Singkat cerita segala keperluan mulai dari data-data sekunder, sampai urusan mencari penginapan telah selesai. Saatnya kembali ke Malang, menyusun Laporan Pendahuluan dan segera melaksanakan presentasi.

Tahap selanjutnya setelah Lapdal adalah DA (Data dan Analisa). Pada tahap ini kami memulai kegiatan Survei Besar yang segala keperluannya sudah disiapkan pada saat Survei Pendahuluan sebelumnya.

Yang namanya Survei Besar sudah tentu harus dilakukan oleh semua kelompok, semua mahasiswa. Survei dilakukan untuk mengambil data-data primer dengan cara datang langsung ke lokasi untuk observasi dan juga melakukan interview dengan masyarakat setempat. Data-data ini penting untuk kami melakukan perencanaan kedepannya. Kami berangkat menggunakan 3 bis yang langsung menuju jurusan masing-masing. Sementara untuk transportasi selama disana kami menyewa truk untuk mengangkut motor-motor kami.

Menunggu bis
Angkut motor

Hal-hal yang disurvei hampir sama dengan ketika Studio Permukiman Kota di semester 2. Ada sektor Perumahan, Jalan, Sarana, Drainase, Sanitasi dan Sampah, serta Air Bersih. Bedanya saat di semester tiap kelompok hanya fokus di satu sektor yang sudah ditentukan, di semester 4 ini setiap kelompok harus mengobservasi keenam sektor tersebut.

Salah satu yang diamati. Lebar jalan, ketersediaan drainase, sampai luas kavling sekaligus tipe rumah yang terbangun
Survei LHR atau Lalu lintas Harian Rata-rata. Fungsinya untuk menghitung volume jalan. Agar lebih mudah, direkam dulu, dihitung kemudian

Perjalanan survei selalu erat kaitannya dengan jalan-jalan. Demi bisa memenuhi agenda jalan-jalan, kami sebisa mungkin melakukan survei secara efektif dan efisien. Salah satu contohnya pada foto diatas saat melakukan survei LHR. Tidak langsung dihitung ditempat karena pasti akan kesulitan dan rentan mendapatkan hasil yang tidak sesuai eksisting.

Saya tak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi dalam rangka melaksanakan survei yang efektif dan efisien, tiba-tiba saja knalpot motor saya copot. Padahal saat itu sebagian besar data survei sudah didapatkan dan malam harinya ada agenda jalan-jalan yang pertama yaitu ke Madiun untuk berkaraoke. Jadilah kami ke Madiun dengan kondisi motor saya tanpa knalpot yang suaranya  menyakitkan indra pendengaran.

Mungkin balasan dari semesta

Agenda jalan-jalan berikutnya adalah ke Telaga Sarangan. Kami berangkat pagi dan karena tidak terlalu jauh maka sampainya juga tidak siang-siang amat. Suasana Telaga Sarangan yang sejuk, asri nan indah mampu menetralisir keanehan agenda jalan-jalan sebelumnya.

Dari kiri ke kanan. Adi, Lulu, Nina, Dinda, Frentika, Dwi, dan Saya. Kurang satu yaitu Indah karena sakit.

Data-data sudah lengkap, agenda liburan pun terpenuhi, artinya sudah waktunya kami menyusun Laporan DA dan melakukan presentasi. Meski melelahkan dan memakan cukup banyak waktu sekaligus tenaga, presentasi DA dapat diselesaikan dengan lancar. Konflik tipis-tipis yang terjadi selama proses penyusunan laporan adalah hal yang biasa.

Dibawah adalah salah satu peta hasil dari DA. Kami menentukan BWP (Bagian Wilayah Perkotaan) menggunakan metode-metode tertentu untuk menentukan kelurahan atau desa mana dalam kecamatan tersebut yang dapat dikategorikan sebagai kota untuk masuk dalam penyusunan tahap rencana.

Peta BWP Maospati

Tahap rencana menjadi salah satu momok yang memisahkan kami dengan liburan semester. Tahap penting yang menjadi penentu hasil jerih payah kami selama 1 semester menjalani mata kuliah Studio Perencanaan Kota. Inti dari semua hal yang kami lakukan bermuara pada tahap ini. Secara tidak langsung ditahap ini kami lebih belajar bagaimana menyusun RDTR yang baik dan benar menggunakan data-data yang telah diperoleh dan dianalisa pada tahap Lapdal dan DA.

Dalam sebuah RDTR, terdapat yang namanya Rencana Zonasi. Rencana Zonasi penting karena menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di suatu wilayah, dalam hal ini adalah Kecamatan Maospati. Melalui zonasi kita menentukan area mana yang cocok untuk dijadikan kawasan permukiman, perdagangan dan jasa, sarana pemerintahan umum dan lain sebagainya. Sehingga di tahap rencana, perlu mempertimbangkan aspek-aspek seperti sosial dan ekonomi yang sudah termasuk dalam satu kesatuan analisa dalam merencanakan zonasi yang tepat dan dapat berfungsi maksimal di Kecamatan Maospati.

Berikut ini saya tampilkan peta-peta hasil dari Tahap Rencana.

Salah satu peta favorit saya. Rencana Pola Ruang Kecamatan Maospati
Peta Rencana Pembagian Blok
Seperti ini tampilan Peta Rencana Zonasi

Usai presentasi, senyum-senyum yang lama menghilang kembali merekah. Tanpa disadari kami kembali mampu melewati semester dengan lancar.

Senyum cerah ceria

Selain kesibukan perkuliahan khususnya Studio ini, saya juga memiliki kesibukan lain di semester 4 karena angkatan kami mendapat giliran untuk melaksanakan sebuah acara tahunan bertajuk PWK Fair 2016. Di acara ini saya berkesempatan untuk menjadi Ketua Pelaksana.

Sambutan di acara pembukaan

Setelah dirapatkan, kami memutuskan untuk mengambil tema Beethoven: Blended Together for Society and Environment yang bertujuan untuk menyatukan para mahasiswa, dosen, civitas akademika, dan alumni  demi kebaikan lingkungan.

Berhubung niat saya hanya menceritakan terkait studio, saya juga merasa tulisan ini sudah terlalu panjang, maka tidak akan saya jelaskan lengkapnya terkait PWK Fair 2016 yang penuh intrik di sini.

Terima kasih sudah membaca!

Silakan Share Kalau Suka!

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin

2 thoughts on “Semester Empat, Kesibukan Semakin Padat”

Leave a Comment