Ingin Seperti Anak Kecil: Soal Uang

Salya menatap keluar kaca jendela di sebuah café dalam Mall. Dia duduk persis di samping kaca jendela sehingga ia dapat leluasa memperhatikan orang yang berlalu lalang. Semakin ia memperhatikan, semakin ia menyadari bahwa cukup banyak keluarga yang sedang berjalan-jalan santai. Ada yang satu keluarga komplit ayah, ibu dan anak mereka berjumlah dua. Ada pula yang hanya seorang ibu ditemani dengan anaknya.

“Mungkin ayahnya sedang  bekerja”, gumam Salya pelan.

Hari itu adalah hari selasa. Harinya orang bekerja bagi sebagian besar orang. Mungkin tidak bagi yang lainnya, hari selasa hanya hari setelah senin, tidak lebih. Salya termasuk dalam bagian yang merasa hari selasa sama dengan hari lainnya bahkan sabtu ataupun minggu karena memang tidak ada lagi jadwal kuliah yang harus diikuti. Hanya tersisa tugas akhir yang menunggu untuk diselesaikan setelah sekian lama tidak tersentuh.

Seorang ibu dan anaknya memasuki café.

”Habis lagi?” sang Ibu menatap anaknya sambil menggelengkan kepala.

“Iya, Mah. 3 hari lalu baru aku pakai untuk membeli speaker. Speaker dikamarku kan suaranya sudah sember”. Sang Anak mencoba menjelaskan. Ia menarik kursi untuknya duduk.

Walau terlihat tidak memperhatikan, Salya mencuri dengar dengan seksama percapakan ibu dan anaknya tersebut.

“Ya sudah, nanti setelah makan Mama tambahkan lagi uang jajanmu”

“Asyik! Terima kasih, Ma.” Sang Anak tersenyum riang. Kemudian ia mulai membuka buku menu bersiap memesan makanan.

Salya terkesima. Sungguh enak menjadi anak kecil. Percakapan ibu dan anak itu membuatnya merasa ingin kembali menjadi seperti anak kecil yang walaupun amat terbatas dalam memegang uang, namun dapat meminta tanpa rasa sungkan.

Pelan-pelan, sambil menikmati Es Lemon Tea yang sebagian besar esnya sudah mencair, Salya teringat saat kecil dahulu. Uang jajan yang diberikan orang tuanya setiap hari memang tidak banyak, hanya cukup untuk membeli satu nasi bungkus dan air mineral dalam kemasan gelas plastik. Apabila membawa bekal, uang jajan tersebut bisa untuk dibelikan sebungkus Pop Ice yang dimasukkan plastik. Meski demikian, Salya dapat bebas meminta untuk dibelikan apa saja asal bukan barang mewah berlebihan. Misalnya saja Majalah Bobo favoritnya yang terbit setiap minggu.

Saat mulai menjadi mahasiswa, uang saku yang diberikan memang jauh lebih besar daripada ketika masih anak-anak dahulu. Apalagi dia merantau di kota yang jauh dari rumahnya. Namun uang saku tetap uang saku yang akan habis untuk keperluan bulanan seperti kos, makan, transportasi dan lainnya. Sedangkan masih ada uang kuliah yang mesti dibayar tiap semester yang artinya Salya masih harus meminta uang kuliah kepada orang tuanya. Bukan suatu hal yang berat seharusnya, mengingat kondisi ekonomi keluarga Salya yang cukup meskipun tidak berlebih-lebih. Yang membuatnya menjadi kian sulit, ini adalah kali ke-sepuluh Salya meminta uang kuliah kepada orang tuanya. Berarti 10 semester telah dijalani yang akan segera menjadi sebelas.

Terlalu giat dalam organisasi kemahasiswaan adalah salah satu penyebab molornya waktu kuliah Salya. Tugas akhir yang seharusnya dikerjakan saat semester tujuh dan delapan terbengkalai begitu saja. Namun bukan itu yang menjadi penyesalan terbesarnya. Rajin berorganisasi sebetulnya adalah cara untuk mengembangkan networking menjadi lebih luas. Berkenalan dengan alumni-alumni misalnya, ataupun berinteraksi yang lebih intens dengan dosen diluar urusan mata kuliah.

Bagaimanapun Salya adalah Salya, dia kenal dengan banyak alumni-alumni, sering berinteraksi dengan dosen-dosen yang juga senang dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan mahasiswanya, tetapi sayangnya ia tidak memanfaatkan hal tersebut untuk mencari pekerjaan sampingan dengan ikut mengerjakan proyek-proyek alumni atau dosennya.

“Salya, aku diajak Pak Janar untuk ikut proyek penataan kawasan kumuh. Beliau minta dicarikan orang lagi. Kau mau?” Agusto mengajak Salya yang sedang menandatangani beberapa surat di ruang sekretariat.

“Ingin sih, tapi sepertinya kegiatanku sudah terlalu banyak.” Kali ini Salya sibuk mencoret surat-surat yang memiliki banyak kesalahan ejaan. “Kau tawarkan teman-teman yang lain saja, Agusto.”

Beberapa kali kesempatan seperti itu datang di masa lalu.

Tidak untuk kali ini. Dari kesalahannya dahulu, dia belajar sesuatu. Salya tidak sedang duduk di samping kaca jendela café, mengamati orang berlalu lalang, sampai mencuri dengar percapakan kecil antar ibu dan seorang anaknya tanpa sesuatu. Dia sedang menunggu salah satu alumni yang hendak mengajak Salya bergabung mengerjakan salah satu proyeknya. Mereka cukup akrab saat masih menjadi junior dan senior.

Bagaimana mungkin Salya melepas kembali kesempatan ini. Bayarannya lumayan, setidaknya lebih dari setengah kebutuhan untuk membayar uang kuliahnya bisa teratasi. Dia hanya tinggal meminta setengahnya lagi kepada orang tuanya sekaligus berjanji bahwa semester 11 adalah semester terakhirnya.

Silakan Share Kalau Suka!

Share on twitter
Share on facebook
Share on linkedin

1 thought on “Ingin Seperti Anak Kecil: Soal Uang”

Leave a Comment