Categories
Tulisan Bebas

Jadi Diri Sendiri Bukan Berarti Jadi Apa Adanya

Ternyata, gue belum sepenuhnya bebas. Setelah UN ternyata ada yang lebih mencekam, yaitu SBMPTN. Iya gue saat ini lagi belajar untuk antisipasi kalau-kalau gue enggak lulus di jalur SNMPTN. Ini sama aja dengan “keluar dari kandang singa, terperosok ke lubang, yang ditempati buaya”.

*Tapi tetep menyempatkan posting seharusnya diberi applause lah!*

Gue terinspirasi buat postingan ini dari blogger entah siapa namanya. Intinya membahas masalah “be yourself is bullshit”. Kalo blogger yang merasa nulis artikel itu liat postingan ini mohon komentar ya 😀 .

Semua pada tau kan, kalimat “be yourself” ini adalah salah satu kalimat yang emang sudah populer di dunia dan semakin terkenal di Indonesia semenjak remaja-remaja sini, alias anak-anak seangkatan, 1-3 tahun diatas dan 2 tahun dibawah gue keranjingan Sosial Media. Sosial Media, seperti yang kita tau adalah sebuah wadah yang di bagi-bagi menjadi berbagai macam tipe dan aplikasi SosMed. (hanya opini pribadi)

*cut the sh*t, go to the topic already*

Jadi, menurut pengamatan gue yang udah malang-melintang di dunia SosMed Remaja mulai sejak PDKT dengan internet waktu kelas 1 SMP. Jargon “be yourself” ini mulai mengalami pergeseran makna menjadi “jadilah apa adanya” dalam artian bener-bener apa adanya.

Sebelum itu, barusan aja gue bikin survey kecil-kecilan di ask.fm (salah 1 SosMed yang lagi booming. Modelnya sih kayak twitter bisa follow-unfollow tapi disana bisa nanya-nanya siapa aja, dan pas nanya bisa menyembunyikan identitas alias anonymous. Nahloo). Gue nanya “setuju/gak sama kalimat be yourself“. Jumlah yang gue tanyain ada 10 orang gara-gara friends gue disana cuma 17. Dari 10 itu ada 5 yang jawab, selebihnya belum jawab. Tapi bisa gue simpulin kalo jawaban mereka rata-rata…

“Setuju, karena di SosMed banyak orang-orang yang suka judge (nuduh-nuduh gak jelas. Bahasa SosMed) sembarangan dan banyak haters yang suka cari perhatian dengan ngata-ngatain. Jadi mendingan ‘be who you are’ aja”.

Jawabannya gak salah, tapi nyaplir dari jawaban yang gue prediksiin. Jadi hasil survey gue gak valid buat postingan ini. Dan ternyata mereka-mereka ini bukan termasuk sebagian dari orang-orang yang beranggapan bahwa “jadi diri sendiri” = “jadi apa adanya”.

*Kembali ke topik*

Nah, coba lu bayangin gimana jadinya kalo anggapan “jadi diri sendiri” = “jadi apa adanya” di cerita berikut.

Ada seorang remaja A yang lahir di keluarga berada dan tinggal di kota besar. Semua kebutuhannya terpenuhi. Ditambah fasilitas kumplit yang diberikan orang tuanya tanpa remaja A perlu minta apalagi merengek-rengek. Walaupun dia seorang introvert (pendiam), tapi dia memiliki kepercayaan diri yang lumayan. Dan dengan fasilitas kumplit yang dia miliki, dia jadi salah satu remaja yang gaul abis.

Kemudian ada juga seorang remaja B yang lahir di keluarga yang cukup tapi tidak berkecukupan dan tinggal di kota besar juga sama seperti ramaja A. Fasilitasnya sebagai anak, hanya setengah dari fasilitas remaja A. Dia juga seorang introvert, tapi karena fasilitas yang dimiliki enggak semewah remaja A, ia jadi kurang percaya diri dan enggak terlalu gaul seperti remaja A. Dia juga punya kebiasaan buruk kentut di muka orang sembarangan.

Suatu hari secara kebetulan mereka membaca majalah yang sama dan rubrik yang sama juga. Tentang “menjadi diri sendiri”. Dan kebetulan tren saat itu adalah anggapan “jadi diri sendiri” = “jadi apa adanya”, jadi udah ketebak dong. Remaja A akan jadi dirinya apa adanya. Seapa adanya remaja A, tetep aja mewah banget bagi remaja B karena remaja A ini fasilitasnya udah bisa dianggep unlimited. Satu-satunya yang harus dilakukan cuma belajar untuk bisa melanjutkan kesuksesan orang tuanya. Udah.

Sementara remaja B, dia introvert, kurang percaya diri, suka kentut di muka orang, dan fasilitas cuma setengah fasilitas remaja A. Kalo dia jadi apa adanya, komplitlah kekurangannya. Apa yang harus ia lakukan? Berubah!

Pertama dia perlu ngerubah kebiasaan kentutnya. Dari kentut di muka orang sembarangan, jadi kentut sembarangan di muka umum. *eh*
Kedua dia harus merubah kepribadian. Dari introvert jadi tetep introvert tapi dengan kepercayaan diri seperti remaja A. Udah enggak jadi diri sendiri kan?
Ketiga cari penghasilan kecil-kecilan. Bisa dengan ngajar les bocah-bocah SD, kalo dia punya skill bela diri bisa mengajar di sekolah-sekolah, bisa juga malak, maling, ngerampok bikin usaha kecil-kecilan.

Emang butuh waktu untuk ngerubah semua itu, tapi itu bakalan berguna banget untuk kedepannya, betul?

Jadi, kalimat “be yourself” dan semacamnya itu kurang tepat. “Jadi dirimu sendiri yang lebih baik”, itu lebih tepat menurut gue. Karena untuk jadi diri kita yang lebih baik kita tetep harus mencontoh orang lain yang mempunyai sifat yang lebih baik dari diri kita. Asalkan enggak mengikuti sampai berlebihan menurut gue enggak masalah.

Ngomong-ngomong, gue juga orang introvert…

*Entah yang nanya siapa*

Jadi gue ini bisa dibilang paling pendiem dan tertutup di keluarga. Orang tua gue bahkan udah mengakui itu. Dan ya gue kurang suka aja.

“Sementara keluarga dan temen-temen gue rata-rata ekstrovert kenapa gue harus introvert?”

Kalimat itu yang sering banget berseliweran di kepala gue. Gue udah nyoba buat nyari-nyari how to be an extrovert. Tapi tetep aja gue lebih suka diem, bermain dengan pemikiran-pemikiran sendiri. Gue suka pergi main keluar, tapi gue lebih suka diem dirumah. Ciri-ciri introvert banget.

Sebenernya gue gak terlalu ada masalah dengan introvert. Kalo 1 vs 1 gue masih bisa handle lah, gampang. 1 vs 2? Vs 3? Masih bisa terkendali. Kalo udah vs 4 keatas baru deh gue lebih banyak jadi pendengar. Ada jokes gue ketawa, kalo enggak gue lanjut menyimak. Gue jarang bahkan hampir enggak pernah ngelempar joke pas vs 4 keatas. Jadi, intinya gue kurang kepercayaan diri…

introverts3

*Ealah si kampret malah curhat*

Yak, segitu dulu postingan gue kali ini. Kalo ada yang gak setuju dengan opini-opini gue diatas, bisa ngelempar komentar di bawah sanaaa 😀 .

 

=======================================

Sumber gambar: http://breezyk.wordpress.com/2013/04/30/quiet-the-power-of-introverts-in-a-world-that-cant-stop-talking/

0 replies on “Jadi Diri Sendiri Bukan Berarti Jadi Apa Adanya”

Quote yg paling bener harusnya “be the best of yourself”.
Ga ada yg salah kok jadi introvert, dan jangan ngerasa minder. Ada yg salah emang soal konsep introvert di masyarakat, introvert dianggap pemalu bahkan kadang dianggap anti sosial, padahal ini sebenernya ga ada hubungannya. Dan masalahnya, kita yg masuk kaum introvert malah jadi rendah diri, dan sering mengambinghitamkan keintrovertan ini. Malah harusnya bersyukur, introvert itu dilebihkan dalam hal baik hati sama kreativitasnya.
Saya juga introvert kok. Melankolis-plegmatis + INFP + golongan darah A = introvert banget! Introvert itu cool! (cool=keren, cool=pendiam) 😎
Coba tonton deh youtuber Anna Akanna. Stay awesome guys!

yups jadi yang terbaik dari apa yang kita mampu lakukan aja, kalau terpaku jadi apa adanya takutnya akan membatasi diri kan :3
setuju dengan yang di atas “be the best of your self” aja :3

mungkin maksudnya berubahlah menjadi lebih baik tanpa meninggalkan elemen dasar kita. kayak misalnya introvert, ya ngga masalah jadi introvert, tapi jadilah introvert with dignity, confidence, n style. begitu kan? :p

jadi diri lo. senyamannya lo aja 😀 bagi gue, just be yourself=senyamannya lo aja.
gue itu Introvert kalau dikeluarga besar, jadi kalau gue berada dilingkungan yang gak nyaman gue jadi pendiam dan kalau udah awalnya gak nyaman kesananya tetep gak nyaman, tapi disekolah dan dirumah gue extrovert banget..
so, akan ada dua kesan tentang gue yang bertolak belakang. 😀

Mungkin jadi diri sendiri itu dalam artian, ga usah pura-pura jadi orang lain. Selama kita nya percaya diri dan nyaman dengan diri sendiri, kayaknya semua halangan dan rintangan akan selalu bisa dilalui *tsaaahhh~ 😀

Menjadi unik di mata saya tentu jadi lebih baik, asal semua tidak dipaksakan sih, pada dasarnya memang ngga ada pilihan yang jelek mau jadi orang seperti apa saja, yang penting jadi apapun kita syogianya bisa bermanfaat bagi sesama, hehehe

Gue juga introvert loh~ tapi menurut gue pengalaman dan lingkungan bisa jadi faktor penyebab.
Dulu waktu SMK gue emang punya masa lalu yang kurang menyenangkan, gue nggak pinter bergaul alhasil gue seneng menyendiri dan bikin gue jadi introvert karena merasa keberadaan gue pun nggak terlalu diakui.
Tapi sekarang pas kuliah, gue udah mulai bisa adaptasi dan belajar dari lingkungan dan emang orang-orang disekitar gue juga jadi faktor pendukung sehingga lama-kelamaan sifat introvert itu berkurang. Walau kadang gue masih kesulitan untuk ngomong tanpa canggung ke orang yang nggak deket sama gue, tapi setidaknya gue nggak terlalu penyendiri amat lah kayak SMK dulu.

Jadi intinya, jadi diri sendiri tuh dalam artian ya temukan diri lu sendiri. Boleh lah belajar dari orang lain tapi jangan sampe jatohnya jadi ‘bukan diri lu banget’
Menurut gue, sifat ataupun karakter emang nggak bisa dipelajari, yang lu mesti lakuin adalah melakukan perubahan itu sendiri.
Tanya ke diri lu sendiri, “apa untungnya gue jadi introvert?” dan “apa ruginya gue jadi introvert?”

Itu aja sih~

padahal di sekolah temen-temen gue pada ekstrovert semua. tapi sekarang lumayan sih gue udah mulai bicara walau seperlunya aja.
Semoga nanti waktu kuliah gue bisa lebih cuap2 lagi hahaha 😀
tapi introvert ini asik jg menurut gue, gue suka menelusuri pikiran gue dalem2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *